Indonesia kaya dengan tradisi dan adat-istiadat. Setiap daerah mempunyai tradisi dan adat-istiadat sendiri yang memperkaya khazanah budaya bangsa kita. Tradisi dan adat-istiadat yang berbeda inilah yang menjadikan Indonesia berbeda dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Ketika bangsa lain bingung memperkenalkan budayanya yang relatif homogen dan sudah kering untuk dieksplorasi, Indonesia malah tak pernah kehabisan untuk menampilkan budayanya di kancah regional, bahkan internasional.
Salah satu adat-istiadat itu adalah tradisi bayi di Bali. Tradisi yang merupakan upacara bayi ini memang hampir setiap daerah mempunyainya, namun tradisi bayi di Bali sangat khas dan unik. Tradisi adat bayi di Bali yang sangat unik itu adalah upacara bayi yang disebut 3 bulanan. Upacara bayi ini dilaksanakan pada bulan ketiga setelah kelahiran bayi.
Kenapa tradisi adat bayi ini dilakukan pada bulan ketiga setelah kelahiran bayi? Menurut masyarakat Bali, ini karena pada bulan ketiga setelah kelahiran, organ tubuh bayi telah sempurna. Pancaindranya telah aktif dan pencernaan serta peredaran darahnya telah normal. Aktifnya pancaindra, dalam pandangan adat Bali, akan membawa dampak positif dan negatif pada kesucian ruh atau jiwa. Karena itulah diadakan upacara bayi berupa 3 bulanan. Tujuan tradisi adat bayi ini adalah:
- Menanamkan kewaspadaan pada bayi akan pengaruh-pengaruh negatif pada pancaindra.
- Mengucapkan terima kasih pada Sang Hyang Widhi yang telah menjaga bayi sejak berupa janin dalam kandungan hingga kelahirannya ke dunia.
- Pernyataan bahwa bayi sudah menjadi “manusia”, karena itu sudah boleh diberi nama dan kakinya sudah boleh menginjak bumi.
Dalam pandangan masyarakat Bali, jika seorang bayi belum dilakukan upacara bayi 3 bulanan, maka ia belum suci. Akan banyak pengaruh negatif terhadap pancaindranya. Dan ini berbahaya bagi perjalanan hidupnya ke depan.
Sesuai perkembangan kehidupan masyarakat Bali yang kini banyak merantau ke berbagai daerah di Indonesia, tradisi bayi di Bali ini, kini sudah mulai dilakukan berbagai penyesuaian. Bagi perantau yang jauh dari Bali dan kesulitan mengadakan upacara bayi pada hari yang tepat, maka diperbolehkan ketika pulang ke Bali bayi-bayi diupacarai secara bersamaan sekaligus. Upacara bayinya secara massal dan berbarengan, kendati umur bayi-bayi itu sudah ada yang melewati 3 bulan, namun terhadap masing-masing bayi dilakukan satu upacara bayi.
Demikian tradisi bayi di Bali yang menarik untuk kita ketahui sebagai bagian dari budaya bangsa kita.